Senin, 26 Oktober 2015

MAKALAH KIMIA FISIK KOLOID

MAKALAH KIMIA FISIK
KOLOID

Disusun Oleh :
Nurainun Siregar (J1A114064)
Meika Purnamawati (J1A114072)
Khairunnisah (J1A114074)
Hasnatul Ummah (J1A114079)
Elna Noftiana (J1A114086)
Kusmi Handayani (J1A114094)
Renggi Ulil Amri (J1A114096)
Saragita Napitu (J1A1140)

Dosen Pengampu : Fera Oktaria, STP, MP



UNIVERSITAS JAMBI
TEKNOLOGI PERTANIAN/TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
2015
Kata pengantar

Assalamu’allaikum Wr.Wb.
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hikmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui ilmu Kimia Fisik yang khususnya akan dibahas tentang “KOLOID”.
Kami meminta maaf  jika adanya kekurangan dalam makalah ini dan kami mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun kepada para pembaca dan pendengar agar kami selaku penyusun makalah mampu memperbaiki kesalahan dan mempermudah kami dalam menyusun makalah ini. Kami mengucapkan terima kasih atas kerja samanya.
Semoga TUHAN senantiasa menyertai kita semua, amin.
Wassalamu’allaikum Wr.Wb.

Penulis, 11 September 2015

(Kelompok)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Sistem koloid berhubungan dengan proses-proses di alam yang mencakup berbagai bidang. Misalnya, makanan yang di makan (dalam ukuran besar) sebelum digunakan oleh tubuh,terlebih dahulu diproses sehingga berbentuk koloid, dan protoplasma dalam sel-sel makhluk hidup. Dalam kehidupan sehari-hari ini, sering kita temui beberapa produk yang merupakan campuran dari beberapa zat, tetapi zat tersebut dapat bercampur secara merata. Misalnya, saat kita membuat susu, serbuk atau tepung susu bercampur secara merata dengan air panas. Kemudian, es krim yang biasa kita konsumsi, mempunyai rasa yang beragam, es krim tersebut harus disimpan dalam lemari es agar tidak meleleh.
Udara juga mengandung sistem koloid, misalnya polutan padat yang terdispersi (tercampur) dalam udara, yaitu asap dan debu. Juga air yang terdispersi dalam udara yang disebut kabut merupakan sistem koloid. Mineral-mineral yang terdispersi dalam tanah, yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan juga merupakan koloid. Penggunaan sabun untuk mandi dan mencuci berfungsi untuk membentuk koloid antara air dengan kotoran yang melekat (minyak). Campuran logam selenium dengan kaca lampu belakang mobil yang menghasilkan cahaya warna merah juga merupakan sistem koloid.
1.2  RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, dapat ditarik beberapa rumusan masalah yang berhubungan dengan koloid, diantaranya :
1.      Apa itu koloid?
2.      Apa saja jenis-jenis koloid?
3.      Apa saja sifat-sifat koloid dan penerapannya?
4.      Bagaimana cara membuat dan memurnikan koloid?
1.3  TUJUAN PENULISAN
1.      Menjelaskan apa itu koloid.
2.      Menjelaskan jenis-jenis koloid.
3.      Menjelaskan sifat-sifat koloid dan penerapannya.
4.      Menjelaskan cara membuat dan memurnikan koloid.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Koloid
Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaanya antara larutan dan suspensi. Koloid merupakan sistem heterogen, dimana suatu zat “di dispersikan” kedalam suatu media yang homogen. Ukuran zat yang di dispersikan berkisar dari satu nanometer (nm) sampai satu micrometer (mm).
            Untuk memahami sistem koloid, mari kita bandingkan tiga jenis campuran berikut, yaitu campuran gula dengan air, campuran tepung terigu dengan air, dan campuran susu dengan air.
            Apabila kita campurkan gula dengan air, ternyata larutan gula larut dan diperoleh larutan gula. Di dalam larutan, zat terlarut tersebar dalam bentuk partikel yng sangat kecil, sehingga tak dapat dibedakan lagi dari mediumnya walau menggunakan mikroskop ultra. Larutan bersifat kontinue dan merupakan sistem satu fase (homogen). Ukuran partikel zat terlarut kurang dari 1 nm (1 nm = 10-9). Larutan bersifat stabil (tidak memisah) dan tidak dapat disaring.

Tabel Perbandingan Sifat Larutan, Koloid, dan Suspensi.
Larutan (Dispersi Molekuler)
Koloid (Dispersi Koloid)
Suspensi (Dispersi Kasar)
Contoh : larutan gula dalam air
Contoh : campuran susu dengan air
Contoh : campuran tepung terigu dengan air
1.      Homogen, tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra.
2.      Semua partikelnya berdimensi (panjang, lebar atau tebal) kurang dari 1 nm
3.      Satu fase
4.      Stabil
5.      Tidak dapat disaring
6.      Tidak terpisah
1.      Secara makroskopis bersifat homogen tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra.
2.      Partikelnya terdimensi antara 1 nm sampai 100 nm
3.      Dua fase
4.      Pada umunya stabil
5.      Tidak dapat disaring kecuali dengan penyaringa ultra
6.      Tidak terpisah
1.      Heterogen
2.      Salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100 nm
3.      Dua fase
4.      Tidak stabil
5.      Dapat disaring
6.      Terpisah (padatan mengendap)


Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan campuran yang tergolong larutan, koloid, atau sespensi.
Contoh larutan : larutan gula, larutan garam, spiritus, alkohol 70 %, larutan cuka, air laut, udara yang bersih, dan bensin.
Contoh koloid  : sabun, susu, santan, jeli, selai, metega, dan mayonaise.
Contoh suspensi : air sungai yang keruh, campuran air dengan pasir, campuran kopi dengan air dan campuran minyak dengan air.
2.2. Jenis-jenis Koloid
Sistem koloid terdiri atas dua fase atau bentuk, yakni fase pendispersi (fase luar, medium atau terlarut) dan fase terdispersi (fase dalam atau pelarut). Zat yang fasenya tetap disebut zat pendispensi. Sementara itu, zat yang fasenya berubah merupakan zat terdispensi.
No
Fase terdispersi
Fase pendispersi
Nama
Contoh
1
Padat
Gas
Aerosol
Asap (smoke), debu di udara
2
Padat
Cair
Sol
Sol emas, sol belerang, tinta, cat,
3
Padat
Padat
Sol padat
Gelas bewarna dan intan hitam
4
Cair
Gas
Aerosol
Kabut (fog) dan awan
5
Cair
Cair
Emulsi
Susu, santan, minyak ikan
6
Cair
Padat
Emulsi padat
Jeli, mutiara
7
Gas
Cair
Buih
Buih sabun, krim kocok
8
Gas
Padat
Buih Padat
Karet busa, batu apung, sterofom

A.      Aerosol
sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat, jika zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair.
Contoh aerosol padat : asap dan debu dalam udara
Contoh aerosol cair : kabut dan awan
B.       Sol
Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. Koloid sol terdiri atas bagian-bagian berikut :
a.       Sol padat (padat-padat) 
Sol padat ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat. Contoh : logam paduan, kaca berwama, intan hitam, dan baja.
b.      Sol cair (padat-cair)
Sol cair ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair. Berarti, Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase cair. Contoh : cat, tinta, dan kanji.
c.       Sol gas (padat-gas)
Sol gas (aerosol padat) ialah koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase gas. Contoh : asap dan debu.
C.     Emulsi
Koloid emulsi terbagi ke dalam tiga jenis, yakni sebagai berikut :
1.      Emulsi padat (cair-padat)
Emulsi padat (gel) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase padat. Contoh : mentega, keju, jeli, dan mutiara.
2.      Emulsi cair (cair-cair)
Emulsi cair (emulsi) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase cair. Contoh : susu, minyak ikan, dan santan kelapa.
3.      Emulsi gas (cair-gas)
Emulsi gas (aerosol cair) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase gas. Contoh : obat-obat insektisida (semprot), kabut, dan hair spray.
4.      Buih
Koloid buih terdiri atas dua jenis, yaitu sebagai berikut :
a.       Buih padat (gas-padat)
Buih padat ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini berarti zat terdispersi fase gas dan medium fase padat. Contoh: busa jok dan batu apung.
b.      Buih cair (gas-cair)
Buih cair (buih) ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase cair. Berarti, zat terdispersi faso gas dan medium fase cair. Contoh: buih sabun, buih soda, dan krim kocok
2.3. Sifat-Sifat Koloid dan Penerapannya
Sifat-sifat yang dimiliki koloid antara lain efek Tyndall, gerak Brown, bermuatan, adsorpsi, koagulasi berkaitan dengan interaksi antara partikel terdispersi dan medium pendispersi.
1.      Efek Tyndall
Fenomena efek Tyndall dikemukan John Tyndall (1820-1893, ahli fisika dari Inggris). Efek Tyndall adalah gejala penghambatan sinar oleh partikel koloid. Susunan partikel dalam koloid menyebabkan berkas sinar akan dihamburkan oleh partikel-partikel koloid.
·         Jika berkas sinar dilewatkan melalui larutan, seluruh berkas sinar tak tertahan.
·         Jika berkas sinar dilewatkan melalui suspensi, partikel-partikel akan menahan berkas sinar tersebut.
Jadi, efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan larutan, koloid, dan suspensi.
2.      Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerakan patah-patah (zig-zag) partikel-partikel koloid secara terus-menerus dengan arah sembarang. Fenomena ini diamati oleh Robert Brown (1827, ilmuwan Biologi Inggris). Saat itu, Brown sedang mengamati pergerakan butir-butir sari tumbuhan pada permukaan air dengan memakai mikroskop ultra.
            Gerak Brown diakibatkan interaksi antara partikel koloid dengan molekul-molekul pendispersinya. Interaksinya berupa tumbukan antar-partikel tersebut tak seimbang karena kecilnya ukuran partikel. Akibatnya, arah gerak  partikel berubah-ubah tak menentu dan membentuk gerakan zig-zag. Gerak Brown dipengaruhi oleh ukuran partikel dan suhu, yaitu :
·         Semakin kecil ukuran partikel-partikel koloid, gerak Brown semakin cepat.
·         Semakin besar ukuran partikel-partikel koloid, gerak Brown akan semakin lambat.
·         Semakin tinggi suhu koloid, gerak Brown akan semakin cepat.
·         Semakin rendah suhu koloid, gerak Brown akan semakin lambat.
3.      Adsorpsi
Adsorpsi adalah penyerapan partikel oleh permukan zat. Hal ini dapat terjadi karena permukaan koloid memiliki luas permukaan yang besar. Sifat adsorpsi partikel-partikel koloid tersebut dapat dimanfaatkan, yaitu :
a.       Pemutihan Gula Pasir
Gula pasir dapat diperoleh dari batang tebu dengan cara kristalisasi. Batang tebu dipotong-potong, dihancurkan, lalu diperas hingga diperoleh larutan gula. Selanjutnya, larutan tersebut disaring untuk memisahkan sisa-sisa kulit tebu dan larutan gula. Larutan gula diuapkan hingga terbentuk Kristal gula yang berwarna putih kecoklatan. Untuk memutihkan kristal gula tersebut, kita dapat memanfaatkan sifat adsorpsi. Caranya dengan melarutkan kristal gula yang belum murni ke dalam air panas, lalu dialirkan ke system koloid berupa mineral halus berpori.  Hasilnya Kristal gula yang berwarna kecoklatan akan diserap oleh mineral halus berpori sehingga diperoleh gula yang berwarna lebih putih.
b.      Pewarnaan kain
Kain menjadi berwarna karena diwarnai dengan zat-zat pewarna dengan cara pencelupan. Kualitas kain yang dicelup bergantung pada daya serap kain terhadap zat pewarna. Untuk itu, kain yang akan dicelup, terlebih dahulu dicampurkan dengan garam Al2(SO4)3. Ketika dicelupkan ke dalam larutan zat pewarna, akan dihasilkan koloid Al(OH)3 sehingga kain akan lebih mudah menyerap warna.
c.       Penjernihan air
Air bersih merupakan salah satu kebutuhan masyarakat. Namun, saat ini kualitas air yang kita dapatkan kadang-kadang tak jernih alias keruh. Oleh karena itu, masyarakat biasanya menyaring terlebih dahulu air keruh sebelum dipakai dalam penyaringan air, yaitu karbon aktif dan tawas. Karbon aktif memiliki luas permukaan yang sangat besar sehingga daya adsorpsinya pun sangat kuat. Karbon aktif dapat mengadsorpsi bau, rasa, warna dan beberapa zat organik. Tawas memiliki rumus kimia K2SO4Al2(SO4)3. Penambahan tawas kedalam air akan menghasilkan koloid Al(OH)3 sehingga zat-zat penyebab air keruh seperti zat padat, detergen, zat warna akan diserap.
4.      Bermuatan
Penyerapan ion pada permukaan partikel koloid akan menyebabkan partikel koloid bermuatan listrik. Ada dua jenis muatan listrik yang dapat dimiliki koloid yaitu muatan positif dan muatan negatif. Contohnya :
·         Penyerapan ion H+ oleh koloid Fe(OH)3, Dalam air membuat koloid Fe(OH)3 bermuatan positif.
·         Penyerapan ion-ion negatif oleh koloid As2S3 akan menyebabkan koloid As2S3 bermuatan negatif.
a.       Cara mengetahui muatan suatu koloid
Muatan suatu koloid dapat diketahui dengan cara elektroforesis. Cara elektroforesis tersebut  berdasar kemampuan partikel koloid yang bermuatan listrik bergerah dalam medan listrik. Alat elektroforesis tersusun atas dua electrode yang bermuatan positif dan negatif.
Larutan koloid yang bermuatan negatif akan bergerak kearah electrode positif. Sebaliknya, larutan koloid yang bermuatan positif akan bergerak kea rah electrode negatif. Jadi, koloid akan bergerak kea rah electrode yang berlawanan muatan.
Prinsip kerja elektrofoesis dapat digunakan untuk mengatasi masalah pencemaran udara. Asap buangan pabrik mengandung partikel-partikel koloid, seperti asap dan debu. Alat pengendap elektroststik yang dikenal dengan alat Cottrell, dapat mengurangi jumlah asap dan debu di udara yang dihasilkan pabrik.
Alat pengendap Cottrell tersusun beberapa plat logam yang bermuatan. Asap dari cerobong pabrik dialirkan ke dalam pengendap Cottrell sehingga partikel koloid akan tertarik ke dalam plat yang matanya berlawanan.
b.      Dapatkah kestabilan suatu koloid dihilangkan?
Jika muatan suatu partikel dinetralkan, partikel tersebut akan mengendap. Caranya dengan menambahkan koloid yang muatannya berlawanan. Jadi, kestabilan koloid akan hilang jika muatannya dinetralkan. Peristiwa penghilangan kestabilan koloid dikenal dengan koagulasi, sedangkan zat yang menyebabkan koagulasi terjadi disebut koagulan. Ada dua cara untuk menghilangkan kestabilan koloid yaitu menambahkan zat elektrolit yang muatannya berbeda atau koloid yang muatannya berbeda.
Koloid positif akan lebih mudah terkoagulasi jika ditambahkan elektrolit yang muatan ion negatifnya lebih besar. Koloid yang bermuatan negatif akan lebih mudah terkoagulasi jika ditambahkan elektrolit yang muatan ion positifnya lebih besar.
c.       Manfaat dari koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan Industri?
Sifat koloid yang dapat berkoagulasi banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dimanfaatkan dalam industry. Berikut peristiwa yang diakibatkan koagulasi dan industry yang memanfaatkan sifat koagulasi.
·         Pembentukan Delta di Muara Sungai
Delta adalah daerah yang berada diantara laut dan sungai. Delta terbentuk karena peristiwa koagulasi antara koloid tanah liat dari lumpur dengan elektrolit dari air laut. Muatan negative koloid tanah liat akan dinetralkan oleh elektrolit positif air laut, missal Na+, Mg2+, Ca2+, dan Al3+.
·         Industry Karet Alam
Karet alam diperoleh dari pohon karet dengan cara penyadapan kulit batangnya. Kulit batang karet disadap dengan pisau sadap sehingga keluarlah getah yang disebut lateks. Karet alam diperoleh dengan cara menambahkan asam asetat kedalam lateks sehingga lateks akan terkoagulasi. Lateks dan asam asetat memiliki muatan yang berlawanan sehingga keduanya akan saling menetralkan.
·         Penjernihan Air
Selain mengadsorpsi, tawas dapat mengebdapkan kotoran-kotoran dalam air. Tawas yang dilarutkan akan membentuk koloid bermuatan positif. Kotoran dalam air keruh yang bermuatan negative akan dikoagulasikan sehingga kotoran mengendap dan bisa dipisahkan.
d.      Cara mempertahankan koloid agar tetap stabil
Agar  tetap  stabil, dapat ditambah suatu koloid yang dapat melindungi koloid sehingga tak terkoagulasi. Koloid ini disebut koloid pelindung. Koloid pelindung akan membungkus partikel koloid yang dilindungi.
e.       Manfaat koloid pelindung dalam kehidupan sehari-hari
Koloid pelindung sering digunakan pada system koloid emulsi. Koloid pelindung berfungsi untuk mrnstabilkan emulsi disebut emulgator (zat pengemulsi). Contoh bahan yang menggunakan emulgator adalah mayones, margarine, susu. Berkat adanya emulgator, zat-zat yang terdapat dalam emulsi yaitu minyak dan air dapat bercampur. Emulgator yang digunakan yaitu : lesitin pada mayones, soybean pada margarine, kasein pada susu.
2.4. Cara Membuat dan Memurnikan Koloid
1.         Cara membuat koloid dengan dengan cara dispersi
Cara dispersi adalah pembuatan koloid dari partikel yang lebih kasar (suspensi) dari pada koloid. Ada tiga jenis dispersi, yaitu dispersi mekanik, dispersi elektrolitik, dan dispersi peptisasi.
a.       Dispersi Mekanik
Cara dispersi mekanik, koloid dibuat dengan cara penggerusan dan penggilingan (untuk zat padat) atau pengadukan dan pengocokan (untuk zat cair). Setelah partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid terbentuk, partikel didispersikan kedalam medium pendispersinya. Contoh : pembuatan sol belerang.

b.      Dispersi Elektrolitik
Dispersi elektrolitik (Busur Bredig). Dengan cara dispersi elektrolitik, zat padat diubah menjadi partikel koloid dengan bantuan arus listrik tegangan tinggi. Biasanya, dispersi elektrolitik digunakan untuk membuat sol logam, misal : sol platina emas atau perak. Mula-mula, logam platina dibentuk menjadi dua kawat yang berfungsi sebagai electrode. Selanjutnya, kawat tersebut dicelupkan kedalam air dan diberi potensial tinggi. Suhu yang tinggi menyebabkan uap logam mengkondensasi dan membentuk partikel koloid.
c.        Dispersi Peptisasi
Dengan cara dispersi peptisasi, partikel kasar diubah menjadi partikel koloid dengan penambahan zat kimia (zat elektrolit). Tujuannya untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid. Contohnya, soal belerang dibuat dari endapan nikel sulfide dengan cara mengalirkan gas asam sulfida.
2.          Cara membuat koloid dengan cara kondensasi
Cara kondensasi adalah pembuatan koloid dari partikel yang lebih halus dari pada koloid. Pembuatan koloid dengan cara kondensasi melibatkan reaksi kimia, yaitu reaksi reduksi, reaksi oksidasi, reaksi hidrolisis, dan reaksi dekomposisi rangkap.
Membuat koloid dengan cara kondensasi
Reaksi kimia
Contoh
Persamaan reaksi
Reduksi
Oksidasi
Hidrolisi
Dekomposisi rangkap
Pembuatan sol emas
Pembuatan sol belerang
Pembuatan sol ferihidroksida
Pembuatan koloid As2S3
2AuCl3 + 3SnCl2          2Au + 3SnCl4
2H2S + SO2            2H2O + 3S
FeCl3  + 3H2O        Fe(OH)3 + 3HCl
As2O3 + 3H2S        As2S3 + 3H2O

Selain itu, pembuatan koloid secara kondensasi dapat dilakukan melalui pertukaran pelarut atau penurunan kelarutan. Contoh : menuangkan larutan jenuh belerang dalam alkohol kedalam air. Belerang lebih larut dalam alkohol, sedangkan dalam air dapat membentuk koloid atau dapat juga dengan cara pendinginan berlebih.
3.        Cara memurnikan koloid
Koloid yang terbentuk, baik dengan cara kondensasi maupun dispersi, dapat dimurnikan dengan cara dialysis, ultrafiltrasi, dan elektroforesis.
a.       Dialisis
Karena memiliki sifat mengadsorpsi, koloid biasanya bercampur dengan ion-ion penggangu. Koloid dapat dipisahkan dari ion-ion terlarut dengan cara dialysis. Caranya dengan melewatkan pelarut pada system koloid melalui membrane semipermiabel. Ion-ion atau molekul terlarut akan mengikuti pelarut, sedangkan partikel koloid tidak.
Dalam bidang kesehatan, prinsip kerja dialysis dimanfaatkan sebagai mesin pencuci darah untuk penderita sakit ginjal. Jaringan ginjal bersifat semipermiabel sehingga hanya dapat dilewati oleh air dan molekul sederhana seperti urea. Adapun partikel-partikel koloid seperti sel-sel darah merah akan bertahan.
b.      Ultrafiltrasi
Diameter partikel koloid lebih kecil dari pada partikel suspensi sehingga koloid tidak dapat disaring menggunakan kertas saring biasa. Koloid dapat dipisahkan dengan menggunakan kertas saring yang berpori halus. Untuk memperkecil pori, kertas penyaring dicelupkan ke dalam koloid, misalnya selofan.
c.       Elektroforesis
Selain untuk menentukan muatan koloid dan memisahkan asap dan debu dari udara, elektroforesis juga dapat digunakan untuk memurnikan koloid dari partikel-partikel zat pelarut. Cara kerjanya sama, koloid yang bermuatan positif akan bergerak kearah elektrode negatif. Dengan demikian, campuran koloid positif dan negatif dapat dipisahkan.

BAB III


PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaanya antara larutan dan suspensi. Koloid merupakan sistem heterogen, dimana suatu zat “di dispersikan” kedalam suatu media yang homogen.
a.       Koloid dapat dikelompokkan berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersi. Berdasarkan fase terdispersi, koloid dibedakan  sebagai kelompok yaitu aerosol, sol, emulsi, buih.
b.      Koloid memiliki sifat-sifat yaitu efek Tyndall, gerak Brown, bermuatan, adsorpsi, dan koagulasi. Beberapa penerapan koloid antara lain pemutihan gula, pewarnaan kain, penjernihan air dan menggumpalkan karet alam.
c.       Koloid dapat dibuat dengan dua cara yaitu cara disperse dan kondensasi. Dan koloid dapat dimurnikan dengan cara analisis, ultrafiltrasi dan elektroforesis.

DAFTAR PUSTAKA

Justiana Sandria, Muchtaridi. 2009. Kimia 2. Penerbit Yudhistira

Purba Michael, 2007. Kimia. Penerbit Erlangga, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar