MAKALAH
KIMIA FISIK
KOLOID
Nurainun
Siregar (J1A114064)
Meika
Purnamawati (J1A114072)
Khairunnisah
(J1A114074)
Hasnatul
Ummah (J1A114079)
Elna
Noftiana (J1A114086)
Kusmi
Handayani (J1A114094)
Renggi
Ulil Amri (J1A114096)
Saragita
Napitu (J1A1140)
Dosen
Pengampu : Fera Oktaria, STP, MP
UNIVERSITAS
JAMBI
TEKNOLOGI
PERTANIAN/TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
2015
Kata
pengantar
Assalamu’allaikum
Wr.Wb.
Puji syukur
kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hikmat dan
karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun
dengan tujuan untuk mengetahui ilmu Kimia Fisik yang khususnya akan dibahas
tentang “KOLOID”.
Kami meminta
maaf jika adanya kekurangan dalam
makalah ini dan kami mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun kepada
para pembaca dan pendengar agar kami selaku penyusun makalah mampu memperbaiki
kesalahan dan mempermudah kami dalam menyusun makalah ini. Kami mengucapkan
terima kasih atas kerja samanya.
Semoga TUHAN
senantiasa menyertai kita semua, amin.
Wassalamu’allaikum
Wr.Wb.
Penulis,
11 September 2015
(Kelompok)
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Sistem koloid berhubungan dengan proses-proses di alam
yang mencakup berbagai bidang. Misalnya, makanan yang di makan (dalam ukuran
besar) sebelum digunakan oleh tubuh,terlebih dahulu diproses sehingga berbentuk
koloid, dan protoplasma dalam sel-sel makhluk hidup. Dalam kehidupan
sehari-hari ini, sering kita temui beberapa produk yang merupakan campuran dari
beberapa zat, tetapi zat tersebut dapat bercampur secara merata. Misalnya, saat
kita membuat susu, serbuk atau tepung susu bercampur secara merata dengan air
panas. Kemudian, es krim yang biasa kita konsumsi, mempunyai rasa yang beragam,
es krim tersebut harus disimpan dalam lemari es agar tidak meleleh.
Udara juga mengandung sistem koloid, misalnya polutan
padat yang terdispersi (tercampur) dalam udara, yaitu asap dan debu. Juga air
yang terdispersi dalam udara yang disebut kabut merupakan sistem koloid. Mineral-mineral
yang terdispersi dalam tanah, yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan juga
merupakan koloid. Penggunaan sabun untuk mandi dan mencuci berfungsi untuk
membentuk koloid antara air dengan kotoran yang melekat (minyak). Campuran
logam selenium dengan kaca lampu belakang mobil yang menghasilkan cahaya warna
merah juga merupakan sistem koloid.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
Dari latar belakang di
atas, dapat ditarik beberapa rumusan masalah yang berhubungan dengan koloid,
diantaranya :
1. Apa itu koloid?
2. Apa saja jenis-jenis koloid?
3. Apa saja sifat-sifat koloid dan penerapannya?
4. Bagaimana cara membuat dan memurnikan koloid?
1.3 TUJUAN
PENULISAN
1. Menjelaskan apa itu koloid.
2. Menjelaskan jenis-jenis koloid.
3. Menjelaskan sifat-sifat koloid dan penerapannya.
4. Menjelaskan cara membuat dan memurnikan koloid.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Koloid
Koloid
adalah suatu bentuk campuran yang keadaanya antara larutan dan suspensi. Koloid
merupakan sistem heterogen, dimana suatu zat “di dispersikan” kedalam suatu media yang homogen. Ukuran zat yang
di dispersikan berkisar dari satu nanometer (nm) sampai satu micrometer (mm).
Untuk memahami sistem koloid, mari
kita bandingkan tiga jenis campuran berikut, yaitu campuran gula dengan air,
campuran tepung terigu dengan air, dan campuran susu dengan air.
Apabila kita campurkan gula dengan
air, ternyata larutan gula larut dan diperoleh larutan gula. Di dalam larutan, zat
terlarut tersebar dalam bentuk partikel yng sangat kecil, sehingga tak dapat
dibedakan lagi dari mediumnya walau menggunakan mikroskop ultra. Larutan
bersifat kontinue dan merupakan sistem satu fase (homogen). Ukuran partikel zat
terlarut kurang dari 1 nm (1 nm = 10-9). Larutan bersifat stabil
(tidak memisah) dan tidak dapat disaring.
Tabel
Perbandingan Sifat Larutan, Koloid, dan Suspensi.
Larutan (Dispersi Molekuler)
|
Koloid (Dispersi Koloid)
|
Suspensi (Dispersi Kasar)
|
Contoh : larutan gula dalam air
|
Contoh : campuran tepung terigu dengan
air
|
|
1.
Homogen, tak dapat dibedakan
walaupun menggunakan mikroskop ultra.
2.
Semua partikelnya berdimensi (panjang,
lebar atau tebal) kurang dari 1 nm
3.
Satu fase
4.
Stabil
5.
Tidak dapat disaring
6.
Tidak terpisah
|
1.
Secara makroskopis bersifat
homogen tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra.
2.
Partikelnya terdimensi antara 1
nm sampai 100 nm
3.
Dua fase
4.
Pada umunya stabil
5.
Tidak dapat disaring kecuali
dengan penyaringa ultra
6.
Tidak terpisah
|
1.
Heterogen
2.
Salah satu atau semua dimensi
partikelnya lebih besar dari 100 nm
3.
Dua fase
4.
Tidak stabil
5.
Dapat disaring
6.
Terpisah (padatan mengendap)
|
Dalam
kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan campuran yang tergolong larutan, koloid,
atau sespensi.
Contoh larutan : larutan gula, larutan
garam, spiritus, alkohol 70 %, larutan cuka, air laut, udara yang bersih, dan bensin.
Contoh
koloid : sabun, susu, santan, jeli,
selai, metega, dan mayonaise.
Contoh suspensi : air sungai yang keruh,
campuran air dengan pasir, campuran kopi dengan air dan campuran minyak dengan
air.
2.2.
Jenis-jenis Koloid
Sistem koloid terdiri atas dua fase atau bentuk, yakni
fase pendispersi (fase luar, medium atau terlarut) dan fase terdispersi (fase
dalam atau pelarut). Zat yang fasenya tetap disebut zat pendispensi.
Sementara itu, zat yang fasenya berubah merupakan zat terdispensi.
No
|
Fase terdispersi
|
Fase pendispersi
|
Nama
|
Contoh
|
1
|
Padat
|
Gas
|
Aerosol
|
Asap (smoke), debu di udara
|
2
|
Padat
|
Cair
|
Sol
|
Sol emas, sol belerang, tinta, cat,
|
3
|
Padat
|
Padat
|
Sol padat
|
Gelas bewarna dan intan hitam
|
4
|
Cair
|
Gas
|
Aerosol
|
Kabut (fog) dan awan
|
5
|
Cair
|
Cair
|
Emulsi
|
Susu, santan, minyak ikan
|
6
|
Cair
|
Padat
|
Emulsi padat
|
Jeli, mutiara
|
7
|
Gas
|
Cair
|
Buih
|
Buih sabun, krim kocok
|
8
|
Gas
|
Padat
|
Buih Padat
|
Karet busa, batu apung, sterofom
|
A.
Aerosol
sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas
disebut aerosol. Jika zat yang
terdispersi berupa zat padat disebut aerosol
padat, jika zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair.
Contoh aerosol padat : asap dan debu dalam udara
Contoh aerosol cair : kabut dan awan
B.
Sol
Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. Koloid
sol terdiri atas bagian-bagian berikut :
a. Sol padat (padat-padat)
Sol padat ialah
jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat. Contoh :
logam paduan, kaca berwama, intan hitam, dan baja.
b. Sol cair (padat-cair)
Sol cair ialah
jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair. Berarti,
Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase cair. Contoh : cat,
tinta, dan kanji.
c. Sol gas (padat-gas)
Sol gas (aerosol
padat) ialah koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase gas. Hal
ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase gas. Contoh : asap dan
debu.
C. Emulsi
Koloid emulsi
terbagi ke dalam tiga jenis, yakni sebagai berikut :
1. Emulsi padat (cair-padat)
Emulsi padat (gel) ialah
koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini berarti
zat terdispersi fase cair dan medium fase padat. Contoh : mentega, keju, jeli,
dan mutiara.
2. Emulsi cair (cair-cair)
Emulsi cair (emulsi)
ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair. Hal ini
berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase cair. Contoh : susu, minyak
ikan, dan santan kelapa.
3.
Emulsi gas
(cair-gas)
Emulsi gas (aerosol cair) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam
zat fase gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase gas.
Contoh : obat-obat insektisida (semprot), kabut, dan hair spray.
4. Buih
Koloid buih terdiri
atas dua jenis, yaitu sebagai berikut :
a. Buih padat (gas-padat)
Buih padat ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase
padat. Hal ini berarti zat terdispersi fase gas dan medium fase padat. Contoh:
busa jok dan batu apung.
b. Buih cair (gas-cair)
Buih cair
(buih) ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase cair.
Berarti, zat terdispersi faso gas dan medium fase cair. Contoh: buih sabun,
buih soda, dan krim kocok
2.3. Sifat-Sifat Koloid dan Penerapannya
Sifat-sifat
yang dimiliki koloid antara lain efek Tyndall, gerak Brown, bermuatan,
adsorpsi, koagulasi berkaitan dengan interaksi antara partikel terdispersi dan
medium pendispersi.
1. Efek
Tyndall
Fenomena
efek Tyndall dikemukan John Tyndall (1820-1893, ahli fisika dari Inggris). Efek
Tyndall adalah gejala penghambatan sinar oleh partikel koloid. Susunan partikel
dalam koloid menyebabkan berkas sinar akan dihamburkan oleh partikel-partikel
koloid.
·
Jika berkas sinar dilewatkan melalui
larutan, seluruh berkas sinar tak tertahan.
·
Jika berkas sinar dilewatkan melalui
suspensi, partikel-partikel akan menahan berkas sinar tersebut.
2. Gerak
Brown
Gerak Brown adalah gerakan patah-patah (zig-zag)
partikel-partikel koloid secara terus-menerus dengan arah sembarang. Fenomena
ini diamati oleh Robert Brown (1827, ilmuwan Biologi Inggris). Saat itu, Brown
sedang mengamati pergerakan butir-butir sari tumbuhan pada permukaan air dengan
memakai mikroskop ultra.
Gerak Brown diakibatkan interaksi
antara partikel koloid dengan molekul-molekul pendispersinya. Interaksinya
berupa tumbukan antar-partikel tersebut tak seimbang karena kecilnya ukuran
partikel. Akibatnya, arah gerak partikel
berubah-ubah tak menentu dan membentuk gerakan zig-zag. Gerak Brown dipengaruhi
oleh ukuran partikel dan suhu, yaitu :
·
Semakin kecil ukuran partikel-partikel
koloid, gerak Brown semakin cepat.
·
Semakin besar ukuran partikel-partikel
koloid, gerak Brown akan semakin lambat.
·
Semakin tinggi suhu koloid, gerak Brown
akan semakin cepat.
·
Semakin rendah suhu koloid, gerak Brown
akan semakin lambat.
3. Adsorpsi
Adsorpsi adalah penyerapan partikel oleh
permukan zat. Hal ini dapat terjadi karena permukaan koloid memiliki luas
permukaan yang besar. Sifat adsorpsi partikel-partikel koloid tersebut dapat
dimanfaatkan, yaitu :
a. Pemutihan
Gula Pasir
Gula pasir dapat diperoleh dari batang
tebu dengan cara kristalisasi. Batang tebu dipotong-potong, dihancurkan, lalu
diperas hingga diperoleh larutan gula. Selanjutnya, larutan tersebut disaring
untuk memisahkan sisa-sisa kulit tebu dan larutan gula. Larutan gula diuapkan hingga
terbentuk Kristal gula yang berwarna putih kecoklatan. Untuk memutihkan kristal
gula tersebut, kita dapat memanfaatkan sifat adsorpsi. Caranya dengan
melarutkan kristal gula yang belum murni ke dalam air panas, lalu dialirkan ke
system koloid berupa mineral halus berpori.
Hasilnya Kristal gula yang berwarna kecoklatan akan diserap oleh mineral
halus berpori sehingga diperoleh gula yang berwarna lebih putih.
b. Pewarnaan
kain
Kain menjadi berwarna karena diwarnai
dengan zat-zat pewarna dengan cara pencelupan. Kualitas kain yang dicelup
bergantung pada daya serap kain terhadap zat pewarna. Untuk itu, kain yang akan
dicelup, terlebih dahulu dicampurkan dengan garam Al2(SO4)3.
Ketika dicelupkan ke dalam larutan zat pewarna, akan dihasilkan koloid Al(OH)3
sehingga kain akan lebih mudah menyerap warna.
c. Penjernihan
air
Air bersih merupakan salah satu
kebutuhan masyarakat. Namun, saat ini kualitas air yang kita dapatkan
kadang-kadang tak jernih alias keruh. Oleh karena itu, masyarakat biasanya
menyaring terlebih dahulu air keruh sebelum dipakai dalam penyaringan air,
yaitu karbon aktif dan tawas. Karbon aktif memiliki luas permukaan yang sangat
besar sehingga daya adsorpsinya pun sangat kuat. Karbon aktif dapat
mengadsorpsi bau, rasa, warna dan beberapa zat organik. Tawas memiliki rumus
kimia K2SO4Al2(SO4)3.
Penambahan tawas kedalam air akan menghasilkan koloid Al(OH)3
sehingga zat-zat penyebab air keruh seperti zat padat, detergen, zat warna akan
diserap.
4. Bermuatan
Penyerapan ion pada permukaan partikel
koloid akan menyebabkan partikel koloid bermuatan listrik. Ada dua jenis muatan
listrik yang dapat dimiliki koloid yaitu muatan positif dan muatan negatif.
Contohnya :
·
Penyerapan ion H+ oleh koloid
Fe(OH)3, Dalam air membuat koloid Fe(OH)3 bermuatan
positif.
·
Penyerapan ion-ion negatif oleh koloid
As2S3 akan menyebabkan koloid As2S3 bermuatan
negatif.
a. Cara
mengetahui muatan suatu koloid
Muatan suatu koloid dapat diketahui
dengan cara elektroforesis. Cara elektroforesis tersebut berdasar kemampuan partikel koloid yang
bermuatan listrik bergerah dalam medan listrik. Alat elektroforesis tersusun
atas dua electrode yang bermuatan positif dan negatif.
Larutan koloid yang bermuatan negatif
akan bergerak kearah electrode positif. Sebaliknya, larutan koloid yang bermuatan
positif akan bergerak kea rah electrode negatif. Jadi, koloid akan bergerak kea
rah electrode yang berlawanan muatan.
Prinsip kerja elektrofoesis dapat
digunakan untuk mengatasi masalah pencemaran udara. Asap buangan pabrik
mengandung partikel-partikel koloid, seperti asap dan debu. Alat pengendap
elektroststik yang dikenal dengan alat Cottrell, dapat mengurangi jumlah asap
dan debu di udara yang dihasilkan pabrik.
Alat pengendap Cottrell tersusun
beberapa plat logam yang bermuatan. Asap dari cerobong pabrik dialirkan ke
dalam pengendap Cottrell sehingga partikel koloid akan tertarik ke dalam plat
yang matanya berlawanan.
b. Dapatkah
kestabilan suatu koloid dihilangkan?
Jika muatan suatu partikel dinetralkan,
partikel tersebut akan mengendap. Caranya dengan menambahkan koloid yang
muatannya berlawanan. Jadi, kestabilan koloid akan hilang jika muatannya
dinetralkan. Peristiwa penghilangan kestabilan koloid dikenal dengan koagulasi,
sedangkan zat yang menyebabkan koagulasi terjadi disebut koagulan. Ada dua cara
untuk menghilangkan kestabilan koloid yaitu menambahkan zat elektrolit yang
muatannya berbeda atau koloid yang muatannya berbeda.
Koloid positif akan lebih mudah
terkoagulasi jika ditambahkan elektrolit yang muatan ion negatifnya lebih
besar. Koloid yang bermuatan negatif akan lebih mudah terkoagulasi jika
ditambahkan elektrolit yang muatan ion positifnya lebih besar.
c. Manfaat
dari koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan Industri?
Sifat koloid yang dapat berkoagulasi
banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dimanfaatkan dalam industry.
Berikut peristiwa yang diakibatkan koagulasi dan industry yang memanfaatkan
sifat koagulasi.
·
Pembentukan Delta di Muara Sungai
Delta adalah daerah
yang berada diantara laut dan sungai. Delta terbentuk karena peristiwa
koagulasi antara koloid tanah liat dari lumpur dengan elektrolit dari air laut.
Muatan negative koloid tanah liat akan dinetralkan oleh elektrolit positif air
laut, missal Na+, Mg2+, Ca2+, dan Al3+.
·
Industry Karet Alam
Karet alam diperoleh
dari pohon karet dengan cara penyadapan kulit batangnya. Kulit batang karet
disadap dengan pisau sadap sehingga keluarlah getah yang disebut lateks. Karet
alam diperoleh dengan cara menambahkan asam asetat kedalam lateks sehingga
lateks akan terkoagulasi. Lateks dan asam asetat memiliki muatan yang
berlawanan sehingga keduanya akan saling menetralkan.
·
Penjernihan Air
Selain mengadsorpsi,
tawas dapat mengebdapkan kotoran-kotoran dalam air. Tawas yang dilarutkan akan
membentuk koloid bermuatan positif. Kotoran dalam air keruh yang bermuatan
negative akan dikoagulasikan sehingga kotoran mengendap dan bisa dipisahkan.
d. Cara
mempertahankan koloid agar tetap stabil
Agar tetap
stabil, dapat ditambah suatu koloid yang dapat melindungi koloid
sehingga tak terkoagulasi. Koloid ini disebut koloid pelindung. Koloid
pelindung akan membungkus partikel koloid yang dilindungi.
e. Manfaat
koloid pelindung dalam kehidupan sehari-hari
Koloid pelindung sering digunakan
pada system koloid emulsi. Koloid pelindung berfungsi untuk mrnstabilkan emulsi
disebut emulgator (zat pengemulsi). Contoh bahan yang menggunakan emulgator
adalah mayones, margarine, susu. Berkat adanya emulgator, zat-zat yang terdapat
dalam emulsi yaitu minyak dan air dapat bercampur. Emulgator yang digunakan
yaitu : lesitin pada mayones, soybean pada margarine, kasein pada susu.
2.4. Cara Membuat dan Memurnikan Koloid
1.
Cara membuat
koloid dengan dengan cara dispersi
Cara dispersi adalah
pembuatan koloid dari partikel yang lebih kasar (suspensi) dari pada koloid.
Ada tiga jenis dispersi, yaitu dispersi
mekanik, dispersi elektrolitik, dan dispersi peptisasi.
a.
Dispersi Mekanik
Cara dispersi mekanik, koloid dibuat dengan cara
penggerusan dan penggilingan (untuk zat padat) atau pengadukan dan pengocokan
(untuk zat cair). Setelah partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid
terbentuk, partikel didispersikan kedalam medium pendispersinya. Contoh : pembuatan
sol belerang.
b.
Dispersi Elektrolitik
Dispersi elektrolitik (Busur Bredig). Dengan cara dispersi elektrolitik, zat padat diubah
menjadi partikel koloid dengan bantuan arus listrik tegangan tinggi. Biasanya, dispersi
elektrolitik digunakan untuk membuat sol logam, misal : sol platina emas atau
perak. Mula-mula, logam platina dibentuk menjadi dua kawat yang berfungsi
sebagai electrode. Selanjutnya, kawat tersebut dicelupkan kedalam air dan
diberi potensial tinggi. Suhu yang tinggi menyebabkan uap logam mengkondensasi
dan membentuk partikel koloid.
c.
Dispersi Peptisasi
Dengan cara dispersi peptisasi, partikel kasar diubah
menjadi partikel koloid dengan penambahan zat kimia (zat elektrolit). Tujuannya
untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid. Contohnya, soal
belerang dibuat dari endapan nikel sulfide dengan cara mengalirkan gas asam
sulfida.
2.
Cara membuat koloid dengan cara kondensasi
Cara kondensasi adalah
pembuatan koloid dari partikel yang lebih halus dari pada koloid. Pembuatan
koloid dengan cara kondensasi melibatkan reaksi kimia, yaitu reaksi reduksi,
reaksi oksidasi, reaksi hidrolisis, dan reaksi dekomposisi rangkap.
Membuat koloid dengan cara kondensasi
Reaksi kimia
|
Contoh
|
Persamaan reaksi
|
Reduksi
Oksidasi
Hidrolisi
Dekomposisi rangkap
|
Pembuatan sol emas
Pembuatan sol belerang
Pembuatan sol ferihidroksida
Pembuatan koloid As2S3
|
Selain itu, pembuatan koloid
secara kondensasi dapat dilakukan melalui pertukaran pelarut atau penurunan
kelarutan. Contoh : menuangkan larutan jenuh belerang dalam alkohol kedalam
air. Belerang lebih larut dalam alkohol, sedangkan dalam air dapat membentuk
koloid atau dapat juga dengan cara pendinginan berlebih.
3.
Cara memurnikan
koloid
Koloid yang
terbentuk, baik dengan cara kondensasi maupun dispersi, dapat dimurnikan dengan
cara dialysis, ultrafiltrasi, dan elektroforesis.
a.
Dialisis
Karena memiliki
sifat mengadsorpsi, koloid biasanya bercampur dengan ion-ion penggangu. Koloid
dapat dipisahkan dari ion-ion terlarut dengan cara dialysis. Caranya dengan
melewatkan pelarut pada system koloid melalui membrane semipermiabel. Ion-ion
atau molekul terlarut akan mengikuti pelarut, sedangkan partikel koloid tidak.
Dalam bidang
kesehatan, prinsip kerja dialysis dimanfaatkan sebagai mesin pencuci darah
untuk penderita sakit ginjal. Jaringan ginjal bersifat semipermiabel sehingga
hanya dapat dilewati oleh air dan molekul sederhana seperti urea. Adapun
partikel-partikel koloid seperti sel-sel darah merah akan bertahan.
b.
Ultrafiltrasi
Diameter
partikel koloid lebih kecil dari pada partikel suspensi sehingga koloid tidak
dapat disaring menggunakan kertas saring biasa. Koloid dapat dipisahkan dengan
menggunakan kertas saring yang berpori halus. Untuk memperkecil pori, kertas
penyaring dicelupkan ke dalam koloid, misalnya selofan.
c.
Elektroforesis
Selain untuk
menentukan muatan koloid dan memisahkan asap dan debu dari udara,
elektroforesis juga dapat digunakan untuk memurnikan koloid dari partikel-partikel
zat pelarut. Cara kerjanya sama, koloid yang bermuatan positif akan bergerak
kearah elektrode negatif. Dengan demikian, campuran koloid positif dan negatif
dapat dipisahkan.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Koloid
adalah suatu bentuk campuran yang keadaanya antara larutan dan suspensi. Koloid
merupakan sistem heterogen, dimana suatu zat “di dispersikan” kedalam suatu media yang homogen.
a. Koloid
dapat dikelompokkan berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersi. Berdasarkan
fase terdispersi, koloid dibedakan
sebagai kelompok yaitu aerosol, sol, emulsi, buih.
b. Koloid
memiliki sifat-sifat yaitu efek Tyndall, gerak Brown, bermuatan, adsorpsi, dan
koagulasi. Beberapa penerapan koloid antara lain pemutihan gula, pewarnaan
kain, penjernihan air dan menggumpalkan karet alam.
c. Koloid
dapat dibuat dengan dua cara yaitu cara disperse dan kondensasi. Dan koloid
dapat dimurnikan dengan cara analisis, ultrafiltrasi dan elektroforesis.
DAFTAR
PUSTAKA
Justiana Sandria,
Muchtaridi. 2009. Kimia 2. Penerbit
Yudhistira
Purba Michael, 2007. Kimia. Penerbit Erlangga, Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar